MUSIBAH DAN MUHASABAH

Blog

MUSIBAH DAN MUHASABAH

Kata musibah terdapat dalam Alquran sebanyak 77 kali yang tersebar pada 56 ayat di dalam 27 surah. Secara bahasa musibah merupakan kata dari bahasa Arab ‘ashaba’, yang digunakan untuk menyebut apa yang disebut dalam bahasa Indonesia terwakili dengan sebutan bencana yang tidak mengenakkan.

 

Allah SWT berfirman:

?????? ??????? ?????????? ????? ???????? ??????? ????? ????????? ????????????? ????????????? ???? ??????????? ???? ?????? ??? ???????? ??????? ???????? ? ?????? ?????????? ????????? ???????? ??????? ??????? ???? ??????????? ???????? ??????????? ? ??????? ???????? ???? ???????? ????????????

Artinya: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Ma’idah: 49).

Musibah pada hakikatnya ditimpakan oleh Allah Al-Hakim sebagai keadaan di mana seorang hamba dituntut untuk bersabar dan menjadikannya jalan untuk semakin mendekat kepada-Nya dengan berhukum pada aturan yang Allah turunkan secara sempurna.

Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menuturkan, bahwa jika langit mendung, awan menghitam dan angin kencang, wajah Baginda Nabi Muhammad SAW yang biasanya memancarkan cahaya akan terlihat pucat-pasi karena takut kepada Allah SWT. Beliau lalu keluar dan masuk ke masjid dalam keadaan gelisah seraya berdoa, “Ya Allah…aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hujan dan angin ini, dari keburukan apa saja yang dia kandung dan keburukan apa saja yang dia bawa.”

Aisyah ra. bertanya, “Ya Rasulullah, jika langit mendung, semua orang merasa gembira karena pertanda hujan akan turun. Namun, mengapa engkau tampak ketakutan?”

Nabi SAW menjawab, “Aisyah, bagaimana aku dapat meyakini bahwa awan hitam dan angin kencang itu tidak akan mendatangkan azab Allah? Kaum ‘Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Saat awan mendung, mereka bergembira karena mengira hujan akan turun. Padahal Allah kemudian mendatangkan azab atas mereka.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi).

MasyaAllah! Kita sepantasnya takjub dengan rasa takut Rasulullah kepada Allah SWT. Bayangkan, Rasulullah SAW adalah kekasih-Nya, penghulu ahli surga. Allah SWT mustahil mengazab Beliau. Namun, rasa takut kepada Allah SWT sering menyelinap dalam batin Beliau di saat-saat awan mendung dan angin kencang. Tidaklah rasa takut yang sedemikian terjadi pada Rasulullah SAW melainkan ianya adalah hal yang terpuji, salah satu bentuk ketaqwaan; Al-khaufu minal Jaliil.

Bagaimana dengan para Sahabat beliau? Sama saja. Para Sahabat adalah juga orang-orang yang paling takut kepada Allah Al-Jalil setelah Baginda Rasulullah SAW Padahal mereka telah dijamin masuk ke dalam surga-Nya.

Demikian pula para tabi’in dan generasi sesudah mereka. Kebanyakan mereka adalah generasi yang mengisi hari-harinya dengan amal-ibadah. Malam-malamnya diisi dengan zikir, tilawah Alquran dan qiyamul lail. Siangnya sering diisi dengan shaum sembari tetap mencari nafkah, berdakwah bahkan berjihad (berperang) di jalan Allah SWT. Namun demikian, rasa takut mereka terhadap Allah SWT begitu luar biasa.

Bagaimana dengan generasi Muslim saat ini? Sungguh, musibah demi musibah di negeri ini sudah sering terjadi; mulai dari tsunami, gunung meletus, banjir, kebakaran hutan, gempa bumi, kekeringan yang membuat krisis air, hingga berbagai penyakit seperti virus Corona yang beruntun terjadi. Namun, sepertinya musibah demi musibah itu datang sekadar menimbulkan duka-lara seketika, kemudian setelah itu tak berbekas apa-apa.

Para ulama pun seolah tetap merasa ‘nyaman’ dengan tidak diberlakukannya hukum-hukum Allah, bahkan menyatakan haram menerapkan negara seperti Rasulullah dan tidak wajib menggunakan jilbab. Kaum Muslim secara umum juga sepertinya tetap merasa ‘enjoy’ dengan berbagai kemaksiatan dan kezaliman yang ada. Buktinya mengusung no hijab day, jangan diskriminasi LGBT dsb.

Padahal Allah SWT berfirman (yang artinya): “Ataukah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku” (QS al-Mulk: 17-18).

Harus disadari bahwa berbagai bencana dan musibah yang terjadi merupakan teguran sekaligus peringatan agar kita terdorong untuk rajin melakukan muhasabah (introspeksi diri). Muhasabah tentu sangat penting. Dengan itu, setiap Muslim bisa mengukur sejauh mana ia telah betul-betul menaati seluruh perintah Allah SWT dan sejauh mana ia benar-benar telah menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan itu pula, setiap saat ia akan terdorong untuk terus berupaya menjadi orang yang selalu taat kepada Allah SWT serta menjauhi maksiat dan dosa kepada-Nya. Tentu, muhasabah wajib dilakukan setiap saat, bukan sekadar saat-saat terjadi musibah saja.

“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya: Perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) tidaklah dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit tho’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu, yang telah lewat, Orang-orang tidak mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezholiman pemerintah, Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan, Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka, Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.” (HR Ibnu Majah). Wa ma tawfiqi illa bilLah. []